Powered By Blogger

Kamis, 05 Juli 2012

Musuh Terbesar ''diri sendiri''



















 
"Kebaikan tak mengenal batas "  

 yah itu adalah salah satu kalimat dari sekian banyak kalimat yang kubaca dalam novel "menatap punggung muhammad" yang ditulis oleh fahd djibran. satu kalimat yang membuatku berpikir bahwa ada satu hal yang besarnya melebihi iman, ada satu hal yang besarnya melebihi sebuah keyakinan, ada satu hal yang kekuatannya maha dahsyat dan hebat, lebih tajam dari pada pedang, lebih lembut dari kain sutra. 'kebaikan' yang melebihi segalanya, menyatukan segalanya hingga ke alam semesta.

kebaikan yang jika dilakukan tanpa harus memandang status keyakinan,
kebaikan yang jika dilakukan tanpa harus memandang ras , dan status sosial
kebaikan yang kecilnya seperti batu zahra, dan besarnya seperti gunung . yang luasnya melebihi padang pasir, dan guncangannya melebihi ombak samudera.
yah itulah "kebaikan" 

Kebaikan  adalah unsur yang  diturunkan tuhan ke muka bumi ini, dan kejahatan adalah unsur yang timbul akibat ulah iblis dan syaitan, selalu berpasangan bukan? perbedaan , jelas dan nyata

manusia hidup adalah untuk belajar, belajar adalah salah satu alasan manusia hidup. tidak apa-apa ketika mereka melenceng salah melakukan sedikit kejahatan, karena mereka sedang dalam proses belajar  menuju kebaikan,

ketika seseorang , sebut saja aku, merasa iri hati, merasa dengki terhadap orang lain, namun diatas semua itu ia berusaha menahan, dan terus belajar menghilangkan sifat itu. meredam semua penyakit hati yang timbul akan goda-godaan syaitan. karena kebaikan itu bukan timbul secara naluriah saja, namun dari proses besarnya keinginan belajar menjadi baik.

dan pergolakan yang terjadi diatas adalah karena musuh sebenarnya  adalah "diri sendiri",
sisi gelap yang adanya di dasar hati, yang berdampingan dengan sisi terang yang ada nya juga di dasar hati.
tidak ada manusia yang sempurna kecuali  Rasul, yang kebaikannya terdengar di seluruh penjuru bumi, yang kebaikannya dan kelembutannya membuat air mataku runtuh. 
manusia biasa tidak seperti rasul, manusia biasa memiliki sisi gelap dan terang, sisi yang terus berjuang menuju kebaikan, dan satu sisi menyeret dan terus menghasut pada kejahatan.

menjadi baik itu adalah Pilihan, dan menjadi baik itu lebih sulit daripada memilih menjadi jahat, namun seperti dijelaskan diatas, keduanya adalah suatu proses fase kehidupan yang selalu berdampingan, yang akhirnya membawa mu menuju jalan mana yang akan dipilih. belajarnya,  dan terus berlajar.


 aku berkata pada diriku sendiri, 
" kau yang didalam sana, diamlah, tak usah terus gelisah, kemarilah dan raih pelukanku, aku tidak akan memungkiri dirimu, kita berjalan bersama dan berjuang bersama. kau sisi gelapku, yang kehadirannya ada dan kadang tiada yang mencoba merayu dan menghasut mengajakku ke lubang kesalahan, dan  kau yang sisi terangku terus menerus tanpa lelah terus berusaha muncul demi melindungiku dari godaan lubang kesalahan. kalian diamlah disini dan tenanglah dalam pelukku, biarku menjadi apa yang aku mau, dan tetaplah ajariku ke jalan yang lebih baik. "

 


bantu aku bertoleransi terhadap diriku sendiri, 
bantu aku bertoleransi terhadap sisi gelapku,, 

karena musuh paling besar adalah diri sendiri, 
namun kebaikan tidak mengebal batas, dan tidak pernah memiliki alasan. 


^_^
have a nice Weekend


Tidak ada komentar:

Posting Komentar