Powered By Blogger

Selasa, 04 September 2012

Hubungan Air dan Toleransi

 













Jika kau bertanya padaku Minuman apa yang paling kusukai, maka aku akan jawab dengan pasti "air mineral" Yah, air mineral. mengapa bukan Jus, atau orange juice atau semacamnya ? aku juga menyukai minuman semacam itu, minuman itu memang sangat menyegarkan. namun aku lebih menyukai air mineral, air biasa berwarna putih bening yang terasa segar dan menyejukkan ketika memasuki ruang tenggorokanku. menghilangkan dahaga, menurunkan kadar stress dan membuat nyaman tubuh serta jiwa.

dan kali ini aku ingin membuat suatu hubungan antara sebuah kata 'toleransi' dengan ' air '
yah, hubungan toleransi dan air.  jika mungkin disini kita memiliki banyak air, untuk diminum, untuk membersihkan tubuh , untuk membersihkan baju dan segala bentuk tempat makan, jika mungkin disini air begitu banyaknya hingga sering kali terbuang sia - sia, lain hal nya dengan di tempat lain. yang terkadang hanya untuk membersihkan tubuhnya maka ia harus mengangkat air terlebih dahulu dari tempat yang berjarak 50 - 100 meter kerumahnya, yang jika ingin membersihkan pakaian kotornya maka ia harus membawa bak besar berisi pakaian kotor menuju tempat seperti pancuran atau sungai yang berjarak hingga 100 - 200 meter . melewati jalan berkelok, mendaki, dan becek. kita disini tidak, kita hanya cukup menyalakan keran maka air akan mengalir dengan banyak, bahkan hingga terbuang.

Contoh saja  Gunung salak.  begitu banyak terdapat curug - curug indah didalamnya, memiliki mata air yang berasal dari embun - embun pepohonan. namun ironis bahwa beberapa rumah penduduk asli tidak memiliki akses yang baik untuk air mengalir, karena air lebih dulu diakses untuk penginapan seperti villa - villa yang berada disana.  tergelitik hati nurani ku ketika liburanku di bogor kali ini melihat sang ibu mengangkat kedua ember yang berada di tangan kanan dan kirinya, berjalan mendaki menuju rumahnya, dan ketika aku bertanya sang ibu mengatakan bahwa sekitar rumahnya air tidak lewat karena tidak kuat dorongan air yang tersisa sehingga mereka harus mengambil air dari tempat yang lebih rendah.

ketika hari terakhirku di bogor, Aku membantu sang kakak ipar membawa pakain bersihnya menuju tempat yang biasa mereka sebut pancuran tujuh, panjuran yang berasal dari mata air bambu, airnya bening dan dapat diminum. aku mencobanya dan sungguh terasa dingin dan segar, dan tidak membuat sakit perut. kami berjalan sekitar 300 meter, menuruni gunung dan lereng, Lelah memang tapi aku mengerti kini bahwa jika saja air tidak ada, jika saja air sulit didapat bagaimana aku membasuh tubuhku setiap hari, bagaimana aku menghilangkan dahagaku. jika di jakarta aku dapat menbuang air dengan tanpa nurani, maka disini aku menghargainya, sangat. karena untuk mendapatkannya aku harus berletih dahulu baru dapat kurasakan nikmatnya air.

Liburanku kali ini tidak hanya memberiku sebuah suasana yang fresh , namun juga memberikanku pelajaran
berharga mengenai betapa seharusnya aku, kita lebih menghargai air tanpa harus membuangya dengan sia - sia. dengan menggunakan air sebaik dan secukupnya secara tidak langsung kita telah sangat bertoleransi kepada diri sendiri , kepada mereka yang kesulitan mendapatkan air bersih.

Selamat pagi, semoga kita dapat lebih menghargai Air ^_^

Minggu, 22 Juli 2012

Marhaban Ya Ramadhan




Ramadhan, Ya Ramadhan. Bulan penuh berkah yang selalu kunantikan. Bulan Ramadhan. 

Banyak hal yang aku suka dari bulan ini, selain pastinya bulan ini adalah bulan penuh pengampunan dan bulan dengan kelipatan pahala dua kali lipat untuk ibadah yang kulakukan. Bulan ramadhan, bulan suci umat islam. 

Namun ada hal lain yang begitu hebat setelah bulan penuh pengampunan dan kelipatan pahala. Yaitu toleransi yang kudapatkan dari semua sahabat dan temanku, baik yang muslim maupun non muslim. Mereka yang non muslim seolah mengamini dan meyakini bahwa saat – saat bulan suci ini adalah bulan dimana tidak boleh adanya dendam atau kesal, agar pahala yang didapatkan dari melaksanakan ibadah puasa dapat menjadi berkah. Mereka mengirimkan ucapan baik melalui sms, via telf atau jejaring sosial, mengucapkan untuk bulan suci yang datang ini. Mengucapkan kata – kata maaf yang mungkin kami sama – sama lakukan atas dasar kesalahan yang juga kami lakukan.  tidak perduli keyakinan apa dan label apa yang kami punya.

Kami manusia, yang tak luput dari salah, tidak perduli muslim maupun tidak, tidak melihat apakah ini adalah bulan suci untuk mereka juga, yang aku tau kami sama – sama saling memaafkan dan menyambut datangnya bulan suci ini. 

Toleransi. Kadang aku berpikir, jika saja kami mau melihat keragaman dengan lebih luas dan lapang dada pastilah tidak akan ada perpecahan, dan hasut menghasut. Bolehkah aku menceritakan suatu cerita , sebagai wujud besarnya respect ku terhadap perbedaan dan toleransi ?! dengarkan yah. 

Setiap  bulan suci ini ada beberapa teman sekolah smk ku yang selalu melakukan kegiatan memberi santunan kepada anak yatim, ketika bulan ramadhan. kami bersama – sama mewujudkan niat tersebut, kami seluruh alumni sekolah selalu ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini, demi satu niat berbagi karena lillahi ta’ala . namun bukan itu sebenarnya point penting dalam tulisan ini. Point terpentingnya adalah kami tidak membatasi siapa saja yang mau berpartisipasi dalam kegiatan ini, tidak hanya seorang muslim. Dan kami tidak menyangka bahwa kekompakan yang terbina sejak zaman sekolah pun hingga kini masih ada, tidak perduli, tidak melihat apakah mereka menjalankan ibadah ini, tidak perduli apakah label mereka adalah seorang muslim atau tidak, mereka  ikut berbagi bersama. 

Kami melakukan kegiatan ini bersama, dari mulai menggalang dana, menyebarkan undangan, mendata seberapa banyak anak yatim yang akan ikut dalam kegiatan ini, hingga sampai pada acara selesai. Kami tidak melihat apakah mereka juga seorang muslim atau tidak. Yang kami tau, kami berbagi bersama di bulan yang penuh rahmat dan suci ini.

Aku tidak pernah menyangka sebesar itu respect mereka terhadap program kami. Hingga saat acarapun mereka bergabung disela – sela kami, tertawa, membantu dan merasakan kepuasan.

Itulah sedikit cerita ku,

Seandainya kita kembali kepada ayat yang ada dalam alqur’an jika tidak salah surat al - kafirun , yang bunyinya “Lakum dinukum wa liyadin" bagimu agamamu dan bagiku agamaku  “  
lakukanlah dan yakinilah agama masing – masing, lakukan yang terbaik untuk keyakinan masing – masing. Dan lakukan yang terbaik untuk kehidupan bersama, bermasyarakat tanpa melihat label keyakinan apa yang dianut, cukup lakukan yang terbaik atas hal yang kau yakini tanpa harus melintasi keyakinan orang lain. Tanpa harus merasa paling benar dan paling sempurna. 

jika semua berjalan di wadahnya masing - masing, tanpa melintasi batasan yang telah dianjurkan, maka kurasa  tidaklah perlu ada pertikaian mengenai agama.  dan pelecehan mengenai keyakinan seseorang.

salam Pagi 

^_^