Ramadhan, Ya Ramadhan. Bulan penuh berkah yang
selalu kunantikan. Bulan Ramadhan.
Banyak hal yang aku suka dari bulan ini, selain
pastinya bulan ini adalah bulan penuh pengampunan dan bulan dengan kelipatan
pahala dua kali lipat untuk ibadah yang kulakukan. Bulan ramadhan, bulan suci
umat islam.
Namun ada hal lain yang begitu hebat setelah bulan
penuh pengampunan dan kelipatan pahala. Yaitu toleransi yang kudapatkan dari
semua sahabat dan temanku, baik yang muslim maupun non muslim. Mereka yang non muslim seolah
mengamini dan meyakini bahwa saat – saat bulan suci ini adalah bulan dimana
tidak boleh adanya dendam atau kesal, agar pahala yang didapatkan dari
melaksanakan ibadah puasa dapat menjadi berkah. Mereka mengirimkan ucapan baik
melalui sms, via telf atau jejaring sosial, mengucapkan untuk bulan suci yang
datang ini. Mengucapkan kata – kata maaf yang mungkin kami sama – sama lakukan atas dasar kesalahan yang juga kami lakukan.
tidak perduli keyakinan apa dan label apa yang kami punya.
Kami manusia, yang
tak luput dari salah, tidak perduli muslim maupun tidak, tidak melihat apakah
ini adalah bulan suci untuk mereka juga, yang aku tau kami sama – sama saling
memaafkan dan menyambut datangnya bulan suci ini.
Toleransi.
Kadang aku berpikir, jika saja kami mau melihat keragaman dengan lebih luas dan
lapang dada pastilah tidak akan ada perpecahan, dan hasut menghasut. Bolehkah
aku menceritakan suatu cerita , sebagai wujud besarnya respect ku terhadap perbedaan dan toleransi ?! dengarkan yah.
Setiap bulan suci ini ada beberapa teman sekolah smk
ku yang selalu melakukan kegiatan memberi santunan kepada anak yatim, ketika
bulan ramadhan. kami bersama – sama mewujudkan niat tersebut, kami seluruh alumni
sekolah selalu ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini, demi satu niat berbagi karena lillahi ta’ala . namun
bukan itu sebenarnya point penting dalam tulisan ini. Point terpentingnya
adalah kami tidak membatasi siapa saja yang mau berpartisipasi dalam kegiatan
ini, tidak hanya seorang muslim. Dan kami tidak menyangka bahwa kekompakan yang
terbina sejak zaman sekolah pun hingga kini masih ada, tidak perduli, tidak
melihat apakah mereka menjalankan ibadah ini, tidak perduli apakah label mereka
adalah seorang muslim atau tidak, mereka
ikut berbagi bersama.
Kami
melakukan kegiatan ini bersama, dari mulai menggalang dana, menyebarkan
undangan, mendata seberapa banyak anak yatim yang akan ikut dalam kegiatan ini,
hingga sampai pada acara selesai. Kami tidak melihat apakah mereka juga seorang
muslim atau tidak. Yang kami tau, kami berbagi bersama di bulan yang penuh
rahmat dan suci ini.
Aku
tidak pernah menyangka sebesar itu respect mereka terhadap program kami. Hingga
saat acarapun mereka bergabung disela – sela kami, tertawa, membantu dan merasakan kepuasan.
Itulah sedikit cerita ku,
Seandainya kita kembali kepada ayat yang ada dalam
alqur’an jika tidak salah surat al - kafirun , yang bunyinya “Lakum dinukum wa liyadin" bagimu
agamamu dan bagiku agamaku “
lakukanlah dan yakinilah agama masing
– masing, lakukan yang terbaik untuk keyakinan masing – masing. Dan lakukan yang
terbaik untuk kehidupan bersama, bermasyarakat tanpa melihat label keyakinan
apa yang dianut, cukup lakukan yang terbaik atas hal yang kau yakini tanpa
harus melintasi keyakinan orang lain. Tanpa harus merasa paling benar dan
paling sempurna.
jika semua berjalan di wadahnya masing - masing, tanpa melintasi batasan yang telah dianjurkan, maka kurasa tidaklah perlu ada pertikaian mengenai agama. dan pelecehan mengenai keyakinan seseorang.
salam Pagi
^_^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar